Manfaat Bekam untuk Kesehatan: Sejarah, Teknik, dan Bukti Medis

Teknologi Kesehatan

Bekam adalah salah satu metode pengobatan tradisional yang kini kembali mendapatkan perhatian luas, baik di masyarakat umum maupun dunia medis. Sebagai bagian dari terapi komplementer, bekam digunakan untuk membantu melancarkan peredaran darah, mengurangi nyeri, hingga meningkatkan kebugaran tubuh. Bahkan, beberapa penelitian medis modern mulai mengeksplorasi efektivitas cupping therapy sebagai terapi pendukung dalam layanan kesehatan rumah sakit.

Dalam artikel ini, kita akan membahas sejarah cupping therapy, jenis-jenis tekniknya, manfaat bagi kesehatan, standar medis yang perlu diperhatikan, serta relevansinya dengan pelayanan kesehatan modern.

Bekam bukanlah terapi baru. Sejak ribuan tahun lalu, cupping therapy telah dikenal di berbagai peradaban, mulai dari Mesir Kuno, Cina, hingga Timur Tengah. Catatan tertua tentang bekam ditemukan pada Ebers Papyrus dari Mesir sekitar 1.550 SM.

Dalam tradisi Islam, cupping therapy juga dikenal sebagai hijamah dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu metode pengobatan yang bermanfaat. Sementara dalam pengobatan tradisional Cina, cupping therapy menjadi bagian dari terapi untuk melancarkan aliran energi (qi) dalam tubuh.

Secara umum, terdapat dua jenis cupping therapy yang populer digunakan, yaitu:

  1. Bekam Basah (Hijamah)
    • Menggunakan sayatan tipis di kulit sebelum dilakukan penyedotan dengan alat bekam.
    • Bertujuan untuk mengeluarkan darah statis atau toksin dari tubuh.
    • Perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih untuk menghindari risiko infeksi.
  2. Bekam Kering
    • Dilakukan dengan cara mengisap kulit menggunakan alat bekam tanpa sayatan.
    • Lebih aman dan biasanya digunakan untuk terapi relaksasi, mengurangi nyeri otot, atau meningkatkan sirkulasi darah.
  3. Bekam Api (Fire Cupping)
    • Menggunakan api untuk menciptakan vakum di dalam gelas bekam.
    • Lebih populer di pengobatan tradisional Cina.
  4. Bekam Listrik / Modern
    • Menggunakan alat vakum elektrik, lebih higienis dan praktis.
    • Banyak digunakan di klinik medis modern yang memadukan pendekatan tradisional dan evidence-based medicine.

Meskipun cupping therapy terlihat sederhana, ada prosedur medis yang harus dipatuhi agar terapi ini aman, terutama bila diterapkan di rumah sakit atau klinik resmi.

  1. Pemeriksaan Pasien
    • Pastikan pasien tidak memiliki kontraindikasi seperti hemofilia, anemia berat, atau penggunaan obat antikoagulan.
    • Lakukan pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan terlebih dahulu.
  2. Sterilisasi Alat
    • Gunakan alat bekam sekali pakai atau sterilkan dengan benar sebelum digunakan.
    • Peralatan yang tidak steril dapat menyebabkan infeksi serius.
  3. Teknik Pelaksanaan
    • Pilih titik bekam sesuai kebutuhan medis (misalnya untuk sakit kepala, punggung, atau terapi relaksasi).
    • Gunakan sarung tangan dan antiseptik untuk menjaga kebersihan.
  4. Pemantauan Pasca-cupping therapy
    • Pasien perlu diobservasi setelah terapi untuk memastikan tidak ada efek samping seperti pusing, perdarahan berlebihan, atau infeksi.

Banyak klaim manfaat bekam beredar di masyarakat. Namun, apa saja yang sudah diteliti secara ilmiah? Berikut beberapa manfaat yang didukung bukti:

  1. Melancarkan Sirkulasi Darah
    Dengan menciptakan tekanan negatif, cupping therapy membantu meningkatkan aliran darah ke jaringan otot.
  2. Mengurangi Nyeri Otot dan Sendi
    Penelitian menunjukkan cupping therapy efektif untuk nyeri punggung bawah, sakit kepala tegang, dan nyeri leher.
  3. Mengurangi Stres dan Kelelahan
    Efek relaksasi dari bekam membuat pasien merasa lebih tenang dan segar.
  4. Detoksifikasi Tubuh
    Dalam tradisi, cupping therapy dipercaya mengeluarkan “darah kotor” atau toksin.
  5. Mendukung Pemulihan Penyakit Tertentu
    Beberapa studi menunjukkan cupping therapy bermanfaat sebagai terapi pendukung untuk hipertensi, migrain, dan masalah pencernaan.

Meski memiliki manfaat, cupping therapy tidak selalu cocok untuk semua orang. Pasien dengan kondisi berikut sebaiknya menghindari cupping therapy:

  • Hemofilia atau kelainan pembekuan darah.
  • Anemia berat.
  • Wanita hamil (terutama trimester pertama).
  • Pasien dengan luka terbuka, infeksi kulit, atau alergi parah.
  • Pasien dengan imunitas rendah (misalnya penderita HIV/AIDS).

Efek samping yang mungkin muncul:

  • Memar dan rasa nyeri ringan.
  • Infeksi bila prosedur tidak steril.
  • Reaksi alergi terhadap bahan antiseptik.

Di era digital, pelayanan cupping therapy di beberapa rumah sakit dan klinik mulai dimasukkan dalam sistem pelayanan komplementer. Bahkan, dalam Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) modern, data cupping therapy dapat terdokumentasi dalam Rekam Medis Elektronik (RME).

Hal ini memungkinkan:

  • Integrasi data bekam dengan layanan medis lainnya.
  • Pemantauan efek terapi secara terukur.
  • Pelaporan ke Kementerian Kesehatan bila menjadi bagian dari layanan resmi.
  1. Lakukan di klinik atau rumah sakit resmi yang memiliki tenaga kesehatan kompeten.
  2. Pastikan alat bekam steril dan sesuai standar medis.
  3. Konsultasikan dengan dokter sebelum menjalani cupping therapy, terutama bila memiliki riwayat penyakit tertentu.
  4. Jangan melakukan cupping therapy terlalu sering, cukup 1–2 kali dalam sebulan sesuai kebutuhan.
  5. Ikuti anjuran pola hidup sehat untuk mendapatkan manfaat maksimal dari cupping therapy.

Beberapa jurnal internasional, termasuk Journal of Traditional and Complementary Medicine, mencatat bahwa cupping therapy dapat membantu mengurangi nyeri muskuloskeletal. Namun, penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk membuktikan manfaat cupping therapy pada penyakit kronis lainnya.

Oleh karena itu, cupping therapy sebaiknya diposisikan sebagai terapi komplementer, bukan pengganti pengobatan medis utama.

Bekam adalah terapi tradisional yang kini semakin mendapat tempat dalam dunia medis. Dengan prosedur yang aman, manfaat cupping therapy dapat dirasakan untuk mengurangi nyeri, melancarkan sirkulasi darah, hingga mendukung relaksasi tubuh. Namun, cupping therapybekam tetap harus dilakukan sesuai standar medis agar terhindar dari risiko.

Bagi rumah sakit atau klinik, integrasi layanan cupping therapy dengan SIMRS dan rekam medis elektronik dapat meningkatkan kualitas dokumentasi serta mendukung evidence-based practice.

Dengan edukasi yang tepat, cupping therapy bisa menjadi jembatan antara pengobatan tradisional dan modern, memberikan manfaat maksimal bagi kesehatan pasien.

Halo!

Konsultasikan kebutuhan Anda dengan tim representatif kami untuk chat via WhatsApp

Marketing Andik Purnomo
6285234303837
Marketing Edi Suatmoko
6281333600030
×
Live ChatHalo, Kami siap membantu Anda?